Apakabar diri yang sudah menghabiskan puluhan ribu menit untuk mengikhlaskan segala rasa tentangnya. Faktanya cerita yang singkat justru menimbulkan effortless yang berat untuk sungguh melepaskannya. Aku rindu, aku pun pilu melihat banyak wanita disana disematkan namanya oleh masing-masing belahan jiwanya. Dulu kukira kamu adalah cinta dengan segala romansa yang belum pernah aku jumpa selama bersenda ria dengan kisahku dibeberapa rasa, kenyataannya semesta tak bersuara malah memberikanmu pada pelukan kisah yang lainnya. Aku meyakini sendiri aku kuat dan aku bisa memaafkan segala yang disebabkan oleh trust issue ini, namun aku ternyata sekarang ada diposisi ricuh adu rindu dan logisme. Rindu yang tidak berhak menyuara, dan logisme yang menuntutku merobek kertas coretan tentangmu. Banyak waktu yang kini kuhabiskan sendiri semenjak kau bukan lagi rumahku, menyusuri euforia lautan, menikmati citylight dengan motor sendirian, mengecam emosi dengan makanan, meminta musik menemani tidurku, bohong pada diri sendiri, semua aku lakukan demi ketenangan. Tenang yang sebelumnya aku dapatkan pada rumahku, rumah yang kini telah pergi memilih berlabuh pada pemukim yang mungkin lebih nyaman. Terkdang aku berfikir sehelai hal yang salah pada diriku sehingga aku kehilangan rumah itu, aku terkadang mengalah pada fikiran negatifku tentangmu, aku berat dengan konsekuensi yang tuhan berikan saat ini. Aku berharap kabarmu, aku berharap secepatnya sapaanmu, aku berharap seikhlasnya pada tuhan tentang itu semua meski lewat mimpi sekalipun.
Kamu, apapun keadaanmu tetap bahagia dimanapun tempatmu dan apapun kondisimu. Aku rindu, aku ga bohong :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar