Hai.
Kurasa 2025 ini adalah ketikan pertama dan mungkin satu-satunya yang kutulis dengan kesadaran penuh bahwa hidup tidak lagi sesederhana dulu.
Aku sudah melewati cukup banyak badai hingga langkahku belajar melambat.
Bukan karena tak mampu berjalan,
melainkan karena aku mulai paham, tidak semua hal harus dikejar, dan tidak semua luka perlu segera disembuhkan.
Ada masa di mana aku begitu sibuk bertahan, hingga lupa bahwa aku pernah punya ruang untuk berhenti dan menulis.
Ruang kecil ini yang dulu menjadi tempatku menyimpan pikiran, menyusun ulang rasa, dan memahami diri sendiri tanpa harus menjelaskannya pada siapa pun.
Tahun ini terasa sunyi dengan cara yang berbeda.
Banyak orang pergi bukan sekadar menjauh, tetapi benar-benar berubah menjadi bagian dari masa lalu.
Mereka pernah penting, pernah dekat, dan pernah menjadi alasan aku percaya bahwa kebersamaan bisa abadi.
Kini aku mengerti, kepergian tidak selalu berarti pengkhianatan.
Sebagian adalah konsekuensi dari tumbuh, sebagian lagi adalah keputusan yang harus dihormati,
meski hati tidak sepenuhnya siap menerimanya.
Ada hari-hari di mana aku bertanya tentang masa depan, bukan dengan ketakutan yang riuh,
melainkan dengan lelah yang tenang.
Bagaimana melanjutkan hidup ketika banyak hal yang dulu memberi makna tak lagi berada di tempatnya?
Namun semakin kupikirkan,
aku mulai sadar bahwa hidup tidak pernah benar-benar habis.
Ia hanya berubah bentuk.
Dan kita, mau tidak mau, harus belajar menyesuaikan diri
tanpa kehilangan diri sendiri.
Jika hari ini aku kembali menulis, bukan karena aku sudah sembuh sepenuhnya,
melainkan karena aku menerima bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja sesekali.
Menulis bukan lagi pelarian, tetapi cara berdamai.
Aku tidak tahu apakah aku akan sering kembali ke sini.
Namun setidaknya, hari ini aku meninggalkan jejak bahwa aku pernah berhenti, menoleh ke belakang,
lalu memilih untuk tetap melangkah dengan lebih pelan, lebih sadar, dan lebih dewasa.



